Translate

Kamis, 10 Desember 2015



Apa Judul Yang Tepat?

Akhir-akhir ini entah kenapa hati semakin tidak menentu. Tak jarang hati semakin sering bertanya-tanya, ada apa dengan diri ini, kenapa dengan diri ini dan apa yang membuat diri seperti ini. Dalam hati sempat bertanya “mungkinkah ini adalah proses dari diri menuju kedewasaan? Inikah yang disebut mereka fase remaja menuju dewasa yang penuh gejolak?” apapun itu, entahlah.

Dilema, adalah wajar mengingat keadaan yang terus menyudutkanku dari luasnya dunia ini. Entah apa yang ada di dalam diri ini, semua terasa berat untuk diterima, berat untuk dijalani. Mudah putus asa? Tunggu dulu jangan mudah menjudge seperti itu. Saat kamu mencoba yang terbaik namun tidak berhasil, saat kamu mendapatkan apa yang kamu inginkan tetapi tidak kamu butuhkan, saat kamu merasa lelah tapi tidak bisa tertidur, terbayang hal yang sudah kamu lewati hari demi hari, adakah yang lebih buruk dari itu? Air mata mengalir dimatamu saat kamu kehilangan sesuatu yang tak tergantikan, adakah yang lebih buruk dari itu? Ya, kenapa aku seperti ini adalah aku terkadang sudah lelah, terkadang ingin menyerah lebih awal, sering aku bertanya Tuhan seberat inikah ujian-Mu atau aku terlalu lemah menghadapi ujian-Mu ini? Mungkinkah aku adalah produk ciptaan-Mu yang mudah menyerah dan tak pernah bersyukur?

Satu hal, terkadang aku kerap iri menghadapi dan menyikapi hidup ini, aku berusaha semampuku untuk bersyukur menerima semua keadaan. Aku memang bukan anak orang yang terpandang dan akupun juga termasuk anak yang (lebih) beruntung dibanding mereka yang berada dibawahku. Tapi entah kenapa setiap kali aku ingin belajar untuk maju jauh memandang kedepan demi sebuah cita-cita yang mungkin tidak seberapa, aku kerap jatuh di tengah jalan, entah berapakalai aku gagal dan entah berapakali aku cerobah dengan berbagai pengalaman kegagalanku itu. Aku selalu berusaha semampuku, berusaha menjadi anak yang lebih dewasa dibanding anak seumuranku. Jatuh bangun mungkin sudah kuhadapi dan mungkin aku sudah selangkah lebih berusaha dibanding mereka yang seumuranku. Hanya saja, aku masih disini, seperti ini dan semakin embuh. Tak jarang aku iri melihat mereka dengan bahagianya menjalani masa muda dengan berekspresi sepuas yang mereka mau sebebas yang mereka mau. Ya, perasaan yang sepertinya tak ada beban sama sekali. Hidup kadang tak adil, aku berusaha jatuh bangun dan disisi yang berseberangan mereka seperti menjalani hidup yang bebas seperti yang mereka mau. Iri? Anggap saja seperti itu. Ingin protes dan berontak? Tentu aku harus berpikir lebih dari dua kali. Aku memiliki orang tua yang mungkin sudah tidak muda lagi, tak ingin kulukai perasaan mereka dengan kata-kata kasarku. Ya benar, satu-satunya cara yang bisa aku lakukan adalah memendam semua ini rapat-rapat di dalam hati. Tak pernah aku ingin bercerita tentang semua ini, aku tak ingin mereka yang mengenalku menjauhiku karena aku yang mungkin adalah anak yang hanya bisa protes terhadap kehidupanku. Kata mereka diam itu emas, mungkin itu ada benarnya.

Tapi sudahlah, lebih baik aku selalu berpikiran positif dan selalu semangat menjalani hari demi hari bukan? Aku berharap mereka selalu mendukung dan mendoakan aku terlebih ada disaat aku membutuhkan uluran tangan. Ya, karena aku percaya dengan kekuatan doa.


Terimakasih telah menyempatkan setidaknya kurang lebih  3 menit untuk membaca kata-kata yang mungkin tidak berguna dan hanya membuang-buang waktu kalian saja. Apapun itu, Barakallah Fiikum . . . J J J                                                                                                                                                                                        (Yoanan Dika Prasetya)

Tidak ada komentar: