Apa Judul Yang Tepat?
Akhir-akhir ini
entah kenapa hati semakin tidak menentu. Tak jarang hati semakin sering
bertanya-tanya, ada apa dengan diri ini, kenapa dengan diri ini dan apa yang
membuat diri seperti ini. Dalam hati sempat bertanya “mungkinkah ini adalah
proses dari diri menuju kedewasaan? Inikah yang disebut mereka fase remaja
menuju dewasa yang penuh gejolak?” apapun itu, entahlah.
Dilema, adalah
wajar mengingat keadaan yang terus menyudutkanku dari luasnya dunia ini. Entah
apa yang ada di dalam diri ini, semua terasa berat untuk diterima, berat untuk
dijalani. Mudah putus asa? Tunggu dulu jangan mudah menjudge seperti itu. Saat
kamu mencoba yang terbaik namun tidak berhasil, saat kamu mendapatkan apa yang
kamu inginkan tetapi tidak kamu butuhkan, saat kamu merasa lelah tapi tidak
bisa tertidur, terbayang hal yang sudah kamu lewati hari demi hari, adakah yang
lebih buruk dari itu? Air mata mengalir dimatamu saat kamu kehilangan sesuatu
yang tak tergantikan, adakah yang lebih buruk dari itu? Ya, kenapa aku seperti
ini adalah aku terkadang sudah lelah, terkadang ingin menyerah lebih awal,
sering aku bertanya Tuhan seberat inikah ujian-Mu atau aku terlalu lemah
menghadapi ujian-Mu ini? Mungkinkah aku adalah produk ciptaan-Mu yang mudah
menyerah dan tak pernah bersyukur?
Satu hal,
terkadang aku kerap iri menghadapi dan menyikapi hidup ini, aku berusaha
semampuku untuk bersyukur menerima semua keadaan. Aku memang bukan anak orang
yang terpandang dan akupun juga termasuk anak yang (lebih) beruntung dibanding
mereka yang berada dibawahku. Tapi entah kenapa setiap kali aku ingin belajar
untuk maju jauh memandang kedepan demi sebuah cita-cita yang mungkin tidak
seberapa, aku kerap jatuh di tengah jalan, entah berapakalai aku gagal dan
entah berapakali aku cerobah dengan berbagai pengalaman kegagalanku itu. Aku
selalu berusaha semampuku, berusaha menjadi anak yang lebih dewasa dibanding
anak seumuranku. Jatuh bangun mungkin sudah kuhadapi dan mungkin aku sudah
selangkah lebih berusaha dibanding mereka yang seumuranku. Hanya saja, aku
masih disini, seperti ini dan semakin embuh. Tak jarang aku iri melihat mereka
dengan bahagianya menjalani masa muda dengan berekspresi sepuas yang mereka mau
sebebas yang mereka mau. Ya, perasaan yang sepertinya tak ada beban sama sekali.
Hidup kadang tak adil, aku berusaha jatuh bangun dan disisi yang berseberangan
mereka seperti menjalani hidup yang bebas seperti yang mereka mau. Iri? Anggap
saja seperti itu. Ingin protes dan berontak? Tentu aku harus berpikir lebih
dari dua kali. Aku memiliki orang tua yang mungkin sudah tidak muda lagi, tak
ingin kulukai perasaan mereka dengan kata-kata kasarku. Ya benar, satu-satunya
cara yang bisa aku lakukan adalah memendam semua ini rapat-rapat di dalam hati.
Tak pernah aku ingin bercerita tentang semua ini, aku tak ingin mereka yang
mengenalku menjauhiku karena aku yang mungkin adalah anak yang hanya bisa
protes terhadap kehidupanku. Kata mereka diam itu emas, mungkin itu ada
benarnya.
Tapi sudahlah,
lebih baik aku selalu berpikiran positif dan selalu semangat menjalani hari
demi hari bukan? Aku berharap mereka selalu mendukung dan mendoakan aku
terlebih ada disaat aku membutuhkan uluran tangan. Ya, karena aku percaya
dengan kekuatan doa.
Terimakasih telah
menyempatkan setidaknya kurang lebih 3
menit untuk membaca kata-kata yang mungkin tidak berguna dan hanya
membuang-buang waktu kalian saja. Apapun itu, Barakallah Fiikum . . . J J J (Yoanan
Dika Prasetya)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar